Ada kesalahan di dalam gadget ini

PELATIHAN DAUR ULANG KERTAS

Selasa, 06 Juli 2010

Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara dan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Grobogan melaksanakan kegiatan pelatihan daur ulang kertas. Pelatihan daur ulang kertas di Grobogan dilaksanakan di Desa Ngraji, sedangkan pelatihan di Kabupaten Jepara dilaksanakan di Desa Robayan Kec. Kalinyamatan Jepara. Kedua pelatihan sebagaimana tersebut di atas dilaksanakan pada bulan Oktober 2009. Peserta pelatihan dari masing – masing lokasi berjumlah 50 orang yang merupakan warga Desa Ngraji dan Desa Robayan. Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah selain memberikan pelatihan, juga memberikan fasilitas studi banding ke Magelang dan diberikan bantuan peralatan berupa 2 buah blender, 15 buah screen, 15 buah rakel, kaca potong, peralatan gunting, cutter, ember, bak air dari kayu, matras, kertas hasil praktek.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas diharapkan pada ke 2 (dua) Desa tersebut dapat menjadi percontohan pengelolaan daur ulang kertas dan sampah skala rumah tangga dapat berkembang di lingkungan RT / RW sekitarnya.

[ Sumber : www.blh.jawatengah.go.id ]

Anggota Keluarga Diambil Sidik Jarinya

Kasus Lenyapnya Ratusan Gram Emas

JEPARA-Ada perkembangan terbaru dari kasus lenyapnya ratusan gram perhiasan emas milik Kholilatul Alawiyah, 60, warga Gang Mangga IV, Desa Robayan, RT 21/III, Kecamatan Kalinyamatan. Polisi telah mengambil sampel sidik jari dari seluruh anggota keluarga serta pembantu korban guna penyidikan lebih lanjut.

Pencurian emas seberat kurang lebih 320 gram (bukan 230 gram sebagaimana yang diberitakan kemarin, Red) milik Alawiyah tersebut, semula diduga kuat dilakukan oleh orang yang sudah paham seluk-beluk rumah tersebut.

Sebab perhiasan yang hilang itu, semula dimasukkan dalam kotak, kemudian dimasukkan dalam lemari yang terkunci. Sementara kondisi lemari tidak ada kerusakan dan kunci yang ditaruh di atas meja samping lemari, juga masih berada di tempatnya.

Kapolres Jepara AKBP Kamdani didampingi Kaurbinops Satreskrim Ipda Rismanto mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mengarahkan kecurigaan pada siapapun, terkait kejadian tersebut. ''Kami belum mengarahkan kecurigaan. Namun semua anggota keluarga serta pembantu korban sudah kami ambil sidik jarinya dalam rangka penyelidikan,'' katanya kemarin (4/7).

Rismanto mengatakan, pihaknya juga belum sepenuhnya berani menyimpulkan jika dugaan pencurian tersebut dilakukan oleh orang yang sudah paham kondisi rumah atau diduga dilakukan orang dalam. ''Bisa juga pencurian itu dilakukan orang luar, karena pintu belakang rumah korban juga sering dibiarkan terbuka,'' ujarnya.

Sebelumnya, menurut Rismanto, polisi juga sudah memastikan jika perhiasan emas milik Alawiyah tersebut, memang benar-benar hilang. Sebab setelah korban melapor kepolisi, pihaknya langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Termasuk mencari keberadan perhiasan tersebut di semua sudut rumah, namun tidak ditemukan.

''Awalnya memang kami belum yakin kalau hilang. Sebab yang punya saja juga sudah lupa akibat terlalu lamanya disimpan dalam kotak. Namun saat kami cari memang tidak ada di rumah,'' jelasnya.

Di rumah tersebut, setiap harinya hanya ada korban dengan anak terakhirnya Amin Maksum, 22, yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kudus. Sebelumnya korban mempunyai seorang pembantu, Ainun, 18, warga Kecamatan Bangsri, yang sudah pamit pulang sejak 20 Juni lalu. Sementara delapan anak korban lainnya sudah tinggal di rumah masing-masing.

Namun untuk keperluan penyidikan, polisi telah mengambil sampel sidik jari korban, sembilan anaknya, serta mantan pembantunya tersebut. Sampai saat ini polisi masih mendalami dugaan pencurian itu. Dan dalam waktu dekat ini akan melakukan pemeriksaan terhadap saksi. (han/mer)

[ Sumber ; Jawa Pos Edisi Senin, 05 Juli 2010 ]

Emas Ratusan Gram Lenyap

JEPARA-Rumah milik Kholilatul Alawiyah, 60, yang berada di Gang Mangga IV, RT 21/III, Desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan, kemarin (2/7) sore mendadak ramai. Petugas dari Unit Identifikasi (Ident) Polres Jepara, mendatang rumah tersebut setelah polisi mendapat laporan terjadinya dugaan pencurian di rumah itu.

Kedatangan petugas, sempat mengagetkan warga yang semula tidak mengetahui adanya kabar pencurian. Akibatnya rumah di gang padat penduduk tersebut dikerubuti puluhan warga. Pemilik rumah Kholilatul Alawiyah mengaku, baru saja melaporkan jika di rumahnya telah terjadi pencurian sejumlah perhiasan emas.

''Saya tahu jika emas saya tidak ada itu sejak Rabu (30/6) lalu, sekitar pukul 20.30. Namun karena saya ragu apakah hilang atau tidak, maka saya baru menyuruh anak saya untuk lapor polisi siang tadi (kemarin, Red),'' katanya.

Menurut Alawiyah, sejumlah perhiasan emas yang dilaporkan hilang berupa kalung sebanyak lima buah, gelang empat buah, anting-anting tiga pasang, cincin tuju buah, dan aksesoris kalung sebanyak tiga buah. Total berat perhiasan emas itu sekitar 230 gram, dengan nominal harga Rp 96 juta. Menurut Alawiyah, perhiasan emas itu dimasukkan dalam kotak, kemudian dimasukkan lagi ke dalam lemari yang ada di dalam kamarnya.

Alawiyah mengaku, emas-emas itu terakhir dipakai pada 9 Juni lalu. ''Sejak tanggal 9 Juni saya sudah tidak pakai. Saya pakai perhiasan kalau pas ada acara tertentu saja. Kalau setiap hari saya tidak pernah pakai. Semuanya ada di dalam kotak yang saya masukkan ke dalam lemari,'' katanya.

Alawiyah mengatakan jika di dalam rumah hanya ada dirinya bersama anaknya, Amin Maksum, 22, yang saat ini masih kuliah di Kudus. Amin anak terakhirnya, setiap hari ada di rumah bersamanya. Selain berama anaknya, Amin, Alawiyah juga mempunyai seorang pembantu, Ainun, 18, yang mengaku warga Kecamatan Bangsri.

Menurutnya, pembantunya tersebut bekerja di sama sudah 1,5 tahun lamanya. Namun dia pamit pulang dan tidak lagi bekerja sejak 20 Juni lalu. Namun, Alawiyah dan keluarganya belum mengarahkan kecurigaan pada siapapun. Ini karena pembantunya itu kemarin juga sudah dipanggil kembali, dan mengaku tidak mengetahui keberadaan emas milik mantan majikannya tersebut.

Sementara itu, Kasatreskrim Iptu Rosyid Hartanto yang juga turut hadir di lokasi, mengatakan belum bisa menyimpulkan kejadian tersebut. Sebab dari hasil identifikasi, tidak ditemukan kerusakan pada lemari di mana kotak emas ditaruh.

''Kami sementara ini belum bisa menyimpulkan sesuatu. Namun, tidak ada bekas kerusakan apapun di lokasi. Kalau memang ada pencurian, tentunya dilakukan oleh orang yang sudah tahu kondisi dan seluk-beluk rumah ini,'' katanya. (han/mer)

[ Sumber : Jawa Pos Edisi Sabtu, 03 Juli 2010 ]

Robayan, Tanpa Petinggi Malah Maju Pesat

Minggu, 10 Januari 2010

DESA Robayan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara adalah satu-satunya dari seluruh desa di Kabupaten Jepara yang tidak memiliki kepala desa (petinggi desa). Hampir dua tahun, tercatat sejak lengsernya petinggi desa terakhir, Milhan, desa tersebut vakum kepemimpinan. Untuk sementara, pimpinan desa diserahkan kepada carik desa.

Namun siapa sangka, desa yang terletak sekitar 200 meter arah selatan pertigaan jalan raya Gotri-Jepara, tepat di pinggir jalan raya Jepara-Demak itu, tetap maju pesat walaupun tanpa leader yang lazimnya ada. Desa yang berdiri di atas areal 98 ha itu dari berbagai sisi memiliki kemajuan sangat pesat.

Menurut penuturan Carik Robayan Mualimin (39), dari sisi ekonomi, desa berpenduduk 6.300 jiwa ini bisa dibilang sebagai miniaturnya Kota Kretek Kudus. Mengapa demikian? Desa yang masa lalunya pernah terkenal sebagai desa ''industri'' rokok tekik (puntung rokok) tersebut kini telah memiliki lebih dari 100 perusahaan kecil yang memproduksi rokok. Namun rokok yang diproduksi tidak lagi dari bahan dasar tembakau rokok tekik, tetapi mendatangkan tembakau dari Kudus, Temanggung, dan Klaten.

Dari jumlah perusahaan yang ada, setiap perusahaan menyerap sekurang-kurangnya 10 tenaga yang direkrut dari warga desa setempat. ''Maka jangan heran, di desa ini para perantau dan penganggur nyaris tidak ada. Mereka terpanggil untuk menekuni lapangan pekerjaan di desa sendiri,'' ujar Mualimin.

Meski industri rokok kecil-kecilan menjamur, tak berarti persaingan tidak sehat terjadi. Justru mereka mampu mengikat diri dalam kerja sama yang solid, baik dalam hal produksi maupun pemasaran.

Industri yang baru berkembang dua tahun terakhir itu telah melahirkan Koperasi Pengusaha Rokok Masyarakat Robayan (Kopero) dan Paguyuban Pengusaha Rokok Masyarakat Robayan (Papero).

Dari sisi sosial agama, keakraban hubungan sesama warga untuk membangun desa patut diacungi jempol. Dalam hal keamanan, gotong royong warga tampak dari lahirnya pengamanan masyarakat (PAM) swakarsa sejak Lebaran lalu.

Jarang sekali ditemukan desa industri yang masih kental nuansa paguyubannya. Saat merenovasi masjid, nuansa itu tampak sekali. Ratusan warga terjun secara bergiliran. Mereka tampak akrab dan ceria.

Renovasi masjid secara total yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 2,3 miliar itu rencananya akan ditanggung masyarakat setempat. Maklum, desa yang terdiri atas 24 RT dan tiga RW itu termasuk desa santri. Madrasah dan pondok pesantren di sana cukup banyak.

Tidak ''Cucuk''

Lantas mengapa sampai terjadi kevakuman kepemimpinan? Mualimin menjelaskan, sawah bengkok untuk petinggi desa tersebut hanya 4,5 hektare yang terletak di Desa Karangrandu, Kecamatan Kalinyamatan. Sawah tadah hujan itu kalau disewakan tidak lebih dari 10 juta/tahun. ''Hasil itu barangkali dirasa tidak cucuk dibandingkan dengan kerja seorang petinggi desa,'' katanya.

Mualimin juga heran mengapa minat masyarakat untuk menjadi petinggi sama sekali tidak ada. Dia mengatakan, tahun 2002 lalu Pemkab melalui kecamatan dan aparat desa bekerja sama untuk membuka pendaftaran bakal calon (balon) petinggi desa.

Rencananya tiap RT mengusulkan dua bakal calon. Namun hingga batas akhir pendaftaran, tak satu pun orang yang mendaftar. Mereka seolah menyadari, walau tanpa petinggi desa, warga bisa berbuat yang terbaik buat desanya.

Hal itu, lanjutnya, setidaknya disebabkan oleh kerja sama yang baik antara para aparat desa, ulama, tokoh masyarakat, dan warga secara umum. ''Inilah kemandirian yang dicita-citakan warga desa ini. Mudah-mudahan kondisi ini bisa terjaga selalu,'' katanya. (Muhammadun Sanomae-15n)

[ Sumber : Suara Merdeka Edisi Rabu, 24 Nopember 2004 ]

Ada kesalahan di dalam gadget ini